RIAUEXPRESS, BENGKALIS - Selama ini masyarakat Pulau Bengkalis, yang meliputi Kecamatan Bengkalis dan Bantan, begitu dimudahkan. Untuk BBM jenis Pertalite, mereka tidak perlu berdesakan di SPBU. Cukup datang ke pengecer yang tersebar di ratusan titik di pinggir jalan, kebutuhan terpenuhi.
Pola itu praktis. Masyarakat tidak perlu membuang waktu berharganya hanya untuk mengantre.
Namun dua hari terakhir, potret itu berubah total. Pemandangan yang tak lazim terjadi di semua SPBU di Pulau Bengkalis. Ratusan sepeda motor terlihat mengantre berjam-jam, hanya untuk mendapatkan Pertalite subsidi.
Bagi warga Bengkalis, ini adalah pemandangan aneh. Biasanya, pengendara motor tak pernah terlihat mengantre di SPBU.
Antrian yang mengular ini bukan sekadar soal antrean. Ini soal waktu yang terampas. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja, berdagang, melaut, atau mengurus keluarga, kini habis terbuang di jalanan, di bawah terik matahari, hanya demi beberapa liter BBM.
Ironinya lebih terasa bagi warga yang tinggal di ujung Pulau Bengkalis. Untuk mendapat BBM subsidi, mereka harus menempuh jarak 30 hingga 40 kilometer. Di tengah ekonomi yang kian menghimpit rakyat kecil, bayangkan jika uang yang ada hanya cukup untuk membeli 1-2 liter. Bisa jadi, BBM itu habis di tengah jalan sebelum sampai di rumah.
Pertanyaannya, apakah para pembuat aturan distribusi BBM subsidi ini pernah benar-benar melihat nasib masyarakat pulau?
Jika pengecer dilarang tanpa solusi distribusi yang adil dan realistis untuk wilayah kepulauan, maka yang terjadi bukan penertiban, melainkan penghukuman. Hukuman berupa hilangnya waktu produktif rakyat hanya untuk antre.
Jangan biarkan kebijakan di pusat, menyandera waktu berharga masyarakat di pulau.**
Laporan: Redaksi
Katagori: Opini

