https://bugaruche.com/dAmKFnzWd.GoNiv-ZDGvUM/DeFm/9EupZZUsl/kFPSTuY/ywNqDUcRx/N/j/A/taNCjaIZ0sNDz/E/2hMaQE Ekonomi Rakyat Indonesia Kini Sedang Jatuh: Potret Nyata di Lapangan -->

CETAK BERITA

Print Friendly and PDF

Ekonomi Rakyat Indonesia Kini Sedang Jatuh: Potret Nyata di Lapangan

, Oktober 20, 2026

RIAUEXPRESS, JAKARTA - Di balik angka pertumbuhan makro yang sering dipamerkan di atas podium, ada realitas yang jauh berbeda di warung-warung kecil, di pasar tradisional, dan di dapur-dapur keluarga Indonesia. Ekonomi rakyat sedang jatuh. Bukan perlahan, tapi nyata dan terasa.


Daya beli adalah indikator paling jujur. Hari ini, seorang buruh dengan upah harian yang sama seperti dua tahun lalu harus membayar harga beras 30 persen lebih mahal, minyak goreng yang harganya tidak pernah stabil, dan uang sekolah anak yang terus naik. Uang Rp 100 ribu yang dulu bisa penuh satu kantong belanjaan, kini hanya cukup untuk beberapa bahan pokok saja.


Pedagang kecil adalah korban pertama. Di Pasar Senen, Pasar Johar, hingga pasar-pasar di daerah, omzet pedagang turun 40-60 persen. Bukan karena mereka malas, tapi karena pembeli tidak ada. Pedagang bercerita sepi, dagangan busuk tidak laku, modal tergerus. Banyak yang akhirnya gulung tikar, beralih menjadi pengemudi ojek online yang pendapatannya juga kian terjepit oleh potongan aplikasi dan persaingan yang tidak sehat.


Sektor informal yang selama ini menjadi bantalan ekonomi nasional sedang kolaps. UMKM yang disebut sebagai tulang punggung ekonomi justru dibiarkan bertarung sendirian melawan gempuran produk impor murah, banjir marketplace yang dikuasai pemain besar, dan akses permodalan yang semakin sulit. Bunga pinjaman mencekik, kurikulum bantuan yang rumit, dan pendampingan yang hanya formalitas.


Petani, nelayan, peternak, nasibnya tidak lebih baik. Harga pupuk melambung, harga pakan naik, tapi harga jual gabah dan hasil tangkap ditentukan tengkulak. Ketika panen raya, harga anjlok. Ketika paceklik, mereka tidak punya apa-apa untuk dijual. Ketimpangan antara biaya produksi dan harga jual semakin lebar, membuat petani terlilit utang dan terpaksa menjual sawahnya.


Di kota-kota besar, fenomena baru muncul: generasi muda yang menyerah mencari kerja tetap. Mereka terjebak dalam pekerjaan serabutan dengan upah tidak pasti. Angka pengangguran terselubung meningkat tajam. Banyak keluarga kelas menengah turun kasta menjadi rentan miskin, hanya karena satu anggota keluarga sakit atau kehilangan pekerjaan.


Penyebab kejatuhan ini bukan takdir. Ini adalah akumulasi dari kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Fokus pembangunan yang terlalu mengejar proyek mercusuar, impor pangan yang mematikan petani lokal, dan minimnya perlindungan nyata bagi pasar domestik.


Ekonomi rakyat tidak butuh jargon dan seminar. Ekonomi rakyat butuh harga yang terjangkau, pasar yang ramai, modal yang mudah, dan kebijakan yang membuat uang berputar di kampung, bukan hanya di gedung-gedung tinggi. Saat ini, perputaran itu macet. Dan jika tidak segera diselamatkan, kejatuhan ekonomi rakyat akan menjadi kejatuhan ekonomi Indonesia itu sendiri.**


Laporan: Redaksi

TerPopuler