RIAUEXPRESS – Kisah mualaf Nia Chen, mantan pelayan jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI), viral di media sosial. Seperti dilansir akun Facebook Al-Ansor, Kamis (29/10/26).
Nia Chen sebelumnya dikenal sangat aktif dalam pelayanan gereja. Ia pernah memegang posisi sebagai Koordinator Tamborin di GBI Battle dan GBI Rock.
Perjalanan spiritualnya hingga memutuskan memeluk Islam pun menarik perhatian publik. Berikut rangkuman perjalanannya:
1. Berawal dari Keraguan Iman
Di tengah keaktifannya melayani, Nia mulai merasakan keraguan terkait beberapa ajaran yang ia jalani. Saat mencoba berdiskusi dengan rekan pelayanan dan pendeta di gerejanya, ia mengaku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.
2. Ketertarikan pada Hijab Lewat Media Sosial
Ketertarikan Nia pada Islam bermula tidak sengaja saat pandemi COVID-19. Ia melihat konten di TikTok yang menampilkan interaksi toleransi remaja beda agama, di mana seorang remaja Nasrani mencoba meminjam hijab temannya yang Muslim.
Dari kekaguman pada estetika pakaian muslimah modern, ia kemudian membaca kolom komentar yang membahas kewajiban menutup kepala.
3. Menemukan Keselarasan Praktik Ibadah
Rasa penasaran itu mendorongnya meneliti lebih dalam. Ia terkejut menemukan sejumlah praktik ibadah dalam Islam yang dinilainya memiliki kemiripan dengan perintah di dalam Alkitab, namun jarang diterapkan di gereja sebelumnya.
Beberapa poin yang ia soroti, antara lain anjuran perempuan menutup kepala saat berdoa, perintah menjaga kesucian tempat ibadah, serta gerakan fisik beribadah seperti bersujud dan melepaskan alas kaki di tempat suci.
Momen Pamit yang Viral
Momen paling emosional adalah saat Nia mengucapkan kalimat pamit sebelum bersyahadat.
Kalimat "Lord Jesus, I'm giving up" ia maknai sebagai bentuk kepasrahan spiritual setelah lama didera keraguan. Ia kemudian menyampaikan doa terakhir sebagai bentuk usahanya yang sudah maksimal mencari kebenaran di agama lamanya.
"I love you, Yesus alaihi salam, aku pamit," tulisnya.
Keputusan Nia sebagai mantan koordinator yang aktif ini sempat mengejutkan rekan-rekan pelayanannya dan memicu dinamika emosional di lingkungan jemaat.
Bagi Nia, kalimat tersebut bukan bentuk kebencian, melainkan titik balik jujur untuk menghentikan pergolakan batin dan memilih keyakinan baru yang menurutnya memberikan ketenangan dan konsep yang lebih logis.**

