https://bugaruche.com/dAmKFnzWd.GoNiv-ZDGvUM/DeFm/9EupZZUsl/kFPSTuY/ywNqDUcRx/N/j/A/taNCjaIZ0sNDz/E/2hMaQE Ditengah Gumpalan Asap Tebal Karhutla, Pelukan Induk Jadi Pertahanan Terakhir Mereka -->

CETAK BERITA

Print Friendly and PDF

Ditengah Gumpalan Asap Tebal Karhutla, Pelukan Induk Jadi Pertahanan Terakhir Mereka

, Oktober 17, 2026

RIAUEXPRESS - Asap Karhutla tahun 2026 di Kalimantan tidak hanya membuat manusia sesak napas. Di balik kabut oranye itu, ada makhluk paling mirip manusia yang mengalami depresi berat.


Orangutan

Foto seekor induk Orangutan Kalimantan yang memeluk erat anaknya di atas dahan hangus, di tengah hutan yang masih menyala, bukan sekadar foto satwa. Itu adalah potret trauma.


Orangutan adalah satwa paling setia pada rumahnya. Mereka tidak akan pindah selagi masih ada satu pohon buah yang berdiri. Mereka arboreal, 90% hidupnya di atas pohon. Ketika pohon itu terbakar, dunianya runtuh.


Apa yang terjadi pada Orangutan saat Karhutla?

1. Stres dan Depresi Akut

Peneliti BOSF dan WWF mencatat, Orangutan yang terjebak asap mengalami stres fisiologis berat. Kadar kortisol naik, tidak mau makan selama berhari-hari, diare, dan melakukan perilaku self-harm seperti memukul-mukul kepala. Induk akan memeluk anaknya berjam-jam tanpa bergerak, tanda depresi dan ketakutan ekstrem. Itu yang terlihat di foto ini.


2. Kehilangan Dapur dan Kamar

Orangutan butuh 300 jenis buah hutan. Satu hektar hutan gambut yang terbakar butuh 50 tahun untuk kembali menghasilkan buah yang sama. Artinya, ketika hutan terbakar hari ini, Orangutan kelaparan sampai anak cucunya. Mereka terpaksa turun ke tanah, masuk kebun sawit warga, lalu diburu karena dianggap hama.


3. Bayi Yatim Piatu Karhutla

Setiap musim Karhutla besar 2015, 2019, 2023, pusat rehabilitasi Nyaru Menteng Palangkaraya kebanjiran bayi Orangutan yatim. Induknya mati terpanggang, atau mati karena asap. Bayi-bayi itu datang dengan kondisi trauma, dehidrasi, dan luka bakar. Tidak semua selamat.


Kita sering menyebut Karhutla bencana alam. Padahal 99% Karhutla di Kalimantan karena ulah manusia, pembukaan lahan dengan bakar.


Jika kita membakar hutan, kita tidak hanya membakar pohon. Kita membakar rumah, membakar dapur, dan membakar kewarasan kerabat terdekat kita di alam.


Orangutan Kalimantan kini kritis, tersisa sekitar 55.000 ekor. Setiap 1.000 hektare gambut terbakar, setara dengan mengusir 2-3 Orangutan dari rumahnya selamanya.


Solusinya bukan hanya memadamkan api. Tapi menjaga gambut tetap basah dengan sekat kanal, menghentikan izin baru di habitat Orangutan, dan menghukum pembakar dengan pasal berlapis termasuk kejahatan terhadap satwa dilindungi.


Karena ketika induk Orangutan sudah tidak punya pohon lagi untuk dipanjat, pelukannya pada anak adalah satu-satunya rumah yang tersisa.


Jangan biarkan pelukan itu menjadi pelukan terakhir bagi mereka.**


Laporan: Redaksi

TerPopuler