RIAUEXPRESS, PEKANBARU - Jika asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) adalah apa yang kita hirup, maka jeritan yang paling memilukan adalah yang tidak pernah kita dengar. Jeritan dari dalam hutan.
Hari ini, kita harus jujur mengakui satu dosa ekologis terbesar kita: Kita telah membuat hewan-hewan penghuni hutan Riau kehilangan tempat tinggal untuk bernaung. Bahkan, di antara mereka banyak yang mati sia-sia akibat Karhutla, tanpa pernah tercatat sebagai korban.
Dulu, Riau adalah surga. Bentang alam dari Semenanjung Kampar, Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Kerumutan, hingga Tesso Nilo adalah rumah megah bagi satwa paling ikonik di planet ini.
Di sanalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), raja hutan yang kini hanya tersisa kurang dari 400 ekor di seluruh dunia, mengajari anaknya berburu. Di sanalah Gajah Sumatera berjalan dalam rombongan besar, membuka jalur-jalur hutan yang kemudian menjadi urat nadi kehidupan. Di sanalah Beruang Madu, Tapir, Owa, Siamang, dan Enggang/Rangkong yang suaranya menjadi penanda hutan masih sehat, hidup dengan tenang.
Mereka tidak butuh banyak dari kita. Mereka hanya butuh hutan yang utuh dan gambut yang basah.
Lalu apa yang kita lakukan?
Kita Membakar Rumah Mereka, Tiga Kali
Kita sudah membahas Tiga Lingkaran Setan Ekologi Riau. Dan korban pertama dan paling setia dari lingkaran setan itu adalah satwa.
Dosa Pertama: Kita Runtuhkan Atap Rumahnya
Ketika illegal logging merajalela sebelum 2010, kita tidak hanya mencuri kayu meranti dan ramin. Kita meruntuhkan kanopi hutan. Kanopi itulah AC alami yang menjaga lantai gambut tetap lembab dan dingin. Ketika atap hilang, sinar matahari langsung menghantam lantai gambut. Rumah mereka yang sejuk, berubah menjadi oven kering.
Harimau kehilangan tempat berteduh. Burung-burung rangkong kehilangan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun tempat mereka bersarang. Gajah kehilangan koridor migrasi.
Dosa Kedua: Kita Bakar Kasurnya
Gambut yang kering adalah bom waktu. Satu api kecil, entah karena kesengajaan membuka lahan atau kelalaian, menjalar menjadi inferno. Api di Riau bukan seperti api di hutan biasa. Api di sini menjalar di bawah tanah, membakar gambut hingga kedalaman 4 meter, selama berbulan-bulan.
Bayangkan seekor Beruang Madu yang sedang berhibernasi di dalam lubang. Bayangkan anak-anak Trenggiling yang tidak bisa berlari cepat. Bayangkan ribuan sarang burung, telur-telur, ular, kancil, dan primata yang terjebak. Mereka tidak punya mobil pemadam kebakaran. Mereka tidak punya masker. Mereka mati terpanggang hidup-hidup di dalam rumahnya sendiri.
Data Balai Besar KSDA Riau mencatat, setiap Karhutla besar, konflik satwa-manusia melonjak 200-300%. Mengapa? Karena mereka lari. Harimau lari ke kebun warga karena hutannya habis terbakar. Gajah masuk ke permukiman karena koridornya jadi abu. Lalu ketika mereka masuk ke kampung, kita cap mereka sebagai hama. Kita yang membakar rumahnya, kita pula yang marah ketika dia menumpang di teras kita.
Dosa Ketiga: Kita Ganti Rumahnya Jadi Sawit Monokultur
Inilah yang paling kejam. Setelah hutan ditebang dan dibakar, lahan itu tidak kita kembalikan menjadi hutan. Lahan itu kita tanam sawit seragam sejauh mata memandang.
Bagi Harimau, kebun sawit adalah gurun pangan. Tidak ada rusa untuk diburu. Bagi Gajah, pelepah sawit bukan makanan. Bagi Orangutan dan Owa, mereka tidak bisa bergelantungan di pohon sawit. Kebun sawit adalah kuburan keanekaragaman hayati. Hijau dari jauh, tapi mati di dalamnya.
Hari ini, jangan heran jika kita hampir tidak pernah lagi mendengar suara Enggang di pagi hari di Kampar. Jangan heran jika jejak Harimau hanya tinggal cerita dari orang tua-tua di Pelalawan. Mereka bukan pergi, mereka punah. Diam-diam.
Lalu, Untuk Siapa Kita Selamatkan Riau?
Jika kita terus membiarkan ini, pepatah Melayu "Tuah Sakti Hilir Mudik" akan kehilangan maknanya. Tuah Riau bukan dari asap dan sawit segelintir cukong. Tuah Riau datang dari hutan yang rimbun, gambut yang basah, dan satwa yang hidup bebas.
Maka solusinya tidak bisa lagi dengan seremoni penanaman 100 pohon.
Pertama, Akui Mereka Sebagai Korban Negara
KLHK dan Pemprov Riau harus memasukkan "korban satwa" dalam setiap laporan resmi Karhutla. Hitung berapa habitat yang hilang, bukan hanya berapa hektare lahan yang terbakar. Tanpa itu, kita tidak akan pernah merasa bersalah.
Kedua, Sekat Kanal Adalah Harga Mati
Restorasi gambut dengan menyekat kanal-kanal raksasa buatan korporasi adalah satu-satunya cara mengembalikan rumah mereka. Gambut basah tidak akan terbakar. Gambut basah adalah AC alami bagi satwa. Wajibkan setiap korporasi pemegang konsesi melakukan rewetting, bukan hanya di atas kertas AMDAL.
Ketiga, Koridor Satwa Wajib Hukum
Audit semua izin sawit yang berada di koridor Gajah dan habitat kritis Harimau di Tesso Nilo dan Giam Siak Kecil. Yang berada di dalam koridor, kembalikan menjadi hutan. Negara harus berani. Jangan hanya berani menangkap petani kecil pembakar 2 hektare, tapi takut mencabut izin korporasi pembuka 20.000 hektare di jantung habitat satwa dilindungi.
Pada akhirnya, pertanyaan ini untuk kita semua: Jika hutan Riau bukan lagi rumah bagi Harimau, Gajah, dan Enggang, apakah ia masih layak disebut hutan?
Ataukah ia hanya sekadar kebun kayu dan sawit yang menunggu giliran dibakar?
Hewan-hewan itu tidak bisa menulis opini. Tidak bisa demo di depan kantor Gubernur. Mereka hanya bisa mati pelan-pelan dalam diam, di dalam hutan yang kita bakar.
Sudah saatnya kita yang bersuara untuk mereka.**
Laporan: Redaksi

