https://bugaruche.com/dAmKFnzWd.GoNiv-ZDGvUM/DeFm/9EupZZUsl/kFPSTuY/ywNqDUcRx/N/j/A/taNCjaIZ0sNDz/E/2hMaQE Tiga Lingkaran Setan Ekologi Riau yang Akibatkan Karhutla -->

CETAK BERITA

Print Friendly and PDF

Tiga Lingkaran Setan Ekologi Riau yang Akibatkan Karhutla

, Oktober 16, 2026

RIAUEXPRESS - Ada tiga dosa ekologis yang saling terkait dan telah menghancurkan Riau selama dua dekade terakhir. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk sebuah lingkaran setan yang sempurna.


Dosa Pertama: Illegal Logging

Ini adalah pintu masuknya. Sebelum 2010, hutan alam Riau, khususnya di Semenanjung Kampar, Giam Siak Kecil, dan Kepulauan Meranti, dijarah secara brutal. Kayu-kayu alam bernilai tinggi diangkut keluar. Ketika tegakan hutan hilang, fungsi atap yang menjaga kelembaban gambut pun runtuh. Sinar matahari langsung membakar lantai gambut. Gambut menjadi kering.


Dosa Kedua: Karhutla di Tanah Gambut

Riau memiliki lebih dari 5 juta hektare gambut, terluas di Sumatera. Gambut yang kering adalah bahan bakar paling berbahaya di dunia. Satu puntung rokok bisa membakar ribuan hektare selama berbulan-bulan karena api menjalar di bawah tanah. Data KLHK menunjukkan 90% Karhutla di Riau terjadi di lahan gambut yang sudah terdegradasi dan berkalan. Pertanyaannya, siapa yang membuat kanal-kanal besar itu? Tentu bukan petani tradisional dengan cangkul. Kanal itu dibuat oleh korporasi untuk mengeringkan gambut.


Dosa Ketiga: Ekspansi Kebun Sawit

Inilah tujuan akhirnya. Setelah hutan habis ditebang dan lahan gambut hangus terbakar, lahan tersebut menjadi "lahan tidur" atau "lahan terlantar" yang kemudian dengan mudah diterbitkan izin baru dalam bentuk perkebunan sawit. Rakyat kecil hanya mendapat asapnya, cukong mendapat sawitnya.


Dampaknya kini kita rasakan secara nyata:

1.  Ekologis: Riau kehilangan fungsi hidrologi. Saat kemarau, kita kekeringan dan asap. Saat hujan, kita banjir karena gambut sudah tidak bisa menahan air.


2.  Ekonomi Rakyat: Nelayan di pesisir Meranti dan Inhil terancam karena intrusi air laut akibat gambut yang amblas. Petani sagu, pangan asli Melayu, kehilangan lahannya.


3.  Kesehatan: Setiap tahun, anak-anak Riau menjadi perokok pasif terbesar di dunia akibat Karhutla.


Solusinya tidak bisa setengah hati.

Pemerintah Pusat dan Pemprov Riau harus berani melakukan 3 hal:


Pertama, Moratorium Total dan Audit. 

Hentikan semua izin baru di atas gambut dalam (di atas 3 meter) dan audit semua kebun sawit yang ada di kawasan gambut.


Kedua, Restorasi Gambut Wajib. 

Kewajiban bagi setiap pemegang konsesi untuk menyekat kanal dan membasahi kembali gambut (rewetting), bukan sekadar janji di atas kertas AMDAL.


Ketiga, Penegakan Hukum yang Berkeadilan. 

Jangan hanya menangkap pembakar kecil di lapangan. Seret aktor intelektual yang menyuruh membuka kanal dan membakar lahan.


Riau pernah dikenal dengan Tuah Sakti Hilir Mudik. Tuah itu datang dari hutan dan gambut yang terjaga. Jika kita terus membiarkan lingkaran setan ini, maka pepatah itu akan berbalik menjadi Kutukan Sakti Hilir Mudik.


Sudah saatnya kita memilih: Mau selamatkan sawit segelintir orang, atau selamatkan nafas jutaan orang Riau?.**


Laporan: Redaksi

TerPopuler