RIAUEXPRESS, BENGKALIS – Komunitas Teater Pusaka Bengkalis menggelar malam sastra di salah satu kafe di Bengkalis, untuk menyemangati para personel komunitas agar tetap berkarya, baik dalam menulis puisi, membaca puisi, maupun berkesenian secara umum, Jumat (06/11/26) malam.
Kegiatan yang berlangsung santai dan penuh keakraban itu diisi dengan pembacaan karya sastra secara bergantian oleh para anggota komunitas. Ketua Komunitas Teater Pusaka Bengkalis, Ikhwanul Sohib Putra, turut tampil membacakan puisi karyanya di hadapan para peserta.
Malam sastra pesisir tersebut juga dihadiri Ketua Perkumpulan Penulis Bengkalis (Penalis), Marzuli Ridwan Al-bantany. Kehadirannya menjadi penyemangat tersendiri bagi remaja dan pemuda yang tergabung dalam komunitas yang telah berdiri selama dua tahun tersebut.
Sebelum membacakan puisinya berjudul "Dari Tepian Selat Malaka', Marzuli dalam sambutan singkatnya menegaskan bahwa Bengkalis dikenal sebagai pulau sastra. Dari pulau ini telah lahir sejumlah sastrawan maupun penulis hebat nasional, salah satunya almarhum Soeman Hs, tokoh cerpen nasional yang dikenal luas melalui karya-karyanya seperti novel "Mentjari Pentjuri Anak Perawan", "Kawan Bergelut", dan lainnya.
Selain itu, Presiden Penyair Indonesia hari ini, yakni Sutardji Calzoum Bachri, dulunya juga pernah besar dan menetap di Pulau Bengkalis.
Menurut Marzuli, jejak Soeman Hs dalam rentak kesusastraan tanah air umumnya, Bengkalis dan Riau khususnya, menjadi bukti bahwa daerah ini memiliki akar kesusastraan yang kuat dan harus terus dirawat. Ia pun mengapresiasi inisiatif Komunitas Teater Pusaka yang terus menghidupkan ruang-ruang sastra di tengah masyarakat dewasa ini.
Sebagai penulis dan sastrawan yang telah melahirkan belasan buku tunggal, baik fiksi maupun non-fiksi, Marzuli berharap melalui komunitas ini akan lahir seniman dan sastrawan muda yang terus berkarya dari Bengkalis, yang tetap konsisten merawat seni dan budaya Melayu Bengkalis agar tak hilang ditelan zaman.
Selain Marzuli dan Ikhwanul Sohib Putra yang akrab disapa Sohib, sejumlah anggota komunitas yang terdiri dari remaja, pemuda, dan mahasiswa juga tampil bergantian membacakan karya sastra mereka. Karya yang dibacakan beragam, mulai dari baca puisi, pantun, syair, hingga sejumlah genre sastra lainnya.**

